Sedekah Bumi dan Haul RA. Pandan Sari RW VII Kalibutuh Timur Tembok Dukuh Bubutan Surabaya

banner 120x600

Reporter ; Hamzah

SRN/SURABAYA/19-5-2024 – Tradisi Sedekah Bumi dan Haul Pesarean RA. Pandan Sari digelar Pengurus Pesarean bersama Pengurus RW 7 Kelurahan Kalibutuh, PAC PDI Perjuangan Bubutan dan DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya sangat meriah dan penuh khidmat dengan antusias luar biasa warga masyarakat sekitar khususnya warga RW VII Kalibutuh Timur, Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Minggu (19/5/2024)

Acara dihadiri juga Dominikus Adi Sutarwijono, S.I.P Ketua DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Ahmad Hidayat Wakil Sekertaris DPC PDI Perjuangan Surabaya, Ketua PAC PDI Perjuangan Iswanto, Ketua LPMK Tembok Dukuh Taufiq Rachmanu, Ketua PAC Bubutan PDI Perjuangan, Ketua RW 7 Samat beserta pengurus RW dan pengurus RT di wilayah RW 7, acara di meriahkan hiburan Reog Ponorogo, Barongsai Lima Naga, kreativitas hias becak dan tumpeng setiap RT di RW 7.

Mengupas sejarah Raden Ayu (RA) Pandansari merupakan Tokoh Awal atau Pendahulu yang babat (membuka) tanah di Kalibutuh, Banyu Urip dan Asem Rowo, hasil penelusuran pengurus Pesarean R.A. Pandan Sari dan berbagai narasumber spiritual bahwa R.A Pandan Sari berasal dari Putri seorang raja Doho Kediri yang mana dalam keruntuhannya kerajaan Majapahit yang ibu kota pindah ke Doho Kediri di bawah pemerintahan Girindawardhana kakek dari Brawijaya V atau Prabu Kertawijaya yang mana pada waktu itu sering terjadi peperangan antara Majapahit melawan kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah.

Dalam paparannya nara sumber memperjelaskan bahwa Raden Patah (Jin Bun) adalah Putra dari Brawijaya V dengan istri selir dari negeri Cina yaitu Retno Subanci yang mana waktu itu sedang mengandung dan di iri oleh istri-istri raja yang lain yang mana menurut ramalan akan menurunkan keturunan sang raja yang akan menenggelamkan Bapaknya sendiri maka pada saat itu putra Brawijaya V yang bernama Prabu Arya Damar di perintah menjadi Adipati Palembang dan dihadiahi Retno Subanci untuk di bawa ke kadipaten Palembang dan untuk menikahi setelah melahirkan, maka dalam penelusuran nara sumber menyebutkan bahwa anak lahir dari Retno Subanci dengan Raden Brawijaya V yaitu Raden Patah (JIN BUN) dan anak dari Retno Subanci dengan Arya Damar yaitu Raden Kusen. Dan diterangkan sebelum Arya Damar menikah dengan Retno Subanci mereka telah memiliki istri-istri yang mana istri-istri tersebut tidak mau di bawa ke Palembang malah memilih di kerajaan Majapahit.

Dari keterangan narasumber bahwa istri dari Arya Damar ada yang memiliki seorang putri yang mana putri tersebut ke sukaannya menanam dan memelihara bunga-bunga termasuk bunga Pandan Wangi, Diambil garis persaudaraan dari Raden Patah ke Raden Kusen. Bahwa Raden Patah satu ibu dengan Raden Kusen yang mana Raden Kusen cucu dari Brawijaya V sama dengan putri dari Raden Arya Damar yang mana banyak menyebut Raden Ayu Pandan Sari atau Raden Ayu Cempoko Wati yang mana mereka cucu dari Brawijaya V.

Dalam penelusuran narasumber bahwa R.A Pandan Sari ini dulu pernah menimba ilmu agama Islam ke saudara satu ayah Yaitu Raden Arya Damar. Mereka tidak lain Adipati Terung yaitu Raden Kusen. Dalam peralihan waktu ke waktu perang antara kesultanan Demak dengan Majapahit terjadi lagi. Waktu itu kesultanan Demak diperintah oleh putra Raden Patah yaitu Sultan Trenggonoka Raden Kusen Adipati membela kerajaan Majepahit terjadilah peperangan ant sehingga Majapahit dapat di taklukan oleh kesultanan Demak di bawah pemerintah kesultanan Demak.

Dengan berlalunya waktu Raden Ayu Pandan Sari atau Raden Ayu Cempoko Wati yang telah lama menimba ilmu di saudaranya Raden Kusen Adipati Terung Akhirnya mengembara dan membuka atau babat tanah di Kalibutuh yang mana daerah ini masih berupa hutan belantara dan banyak di tumbuhi tanaman Pandan Wangi.

Maka Beliau di daerah Kalibutuh ini banyak mengajari cara bertanam, baik padi, jagung, sayur dan beraneka bunga-bungaan.

Dalam penelusuran nara sumber bahwa Raden Ayu Pandan Sari ini menemukan sumber mata air yang beri nama Banyu Urip di dataran perbukitan yang digunakan untuk pengairan persawahan.

Di tempat Kalibutuh ini Raden Ayu Pandan Sari merupakan Tokoh yang membuka atau Babat tanah serta mendirikan padepokan yang mana murid-muridnya mempelajari ilmu agama, ilmu Kanoragan, ilmu bercocok tanam.

Muhammad Zuhri salah satu tokoh masyarakat saat ditemui awakmedia menyampaikan, RA Pandan Sari beliau masih ada sangkut pautnya pangeran Trenggono, kalau menurut orang kalibutuh beliau awalnya dari bayi yang kenter (mengapung di sungai) pada daun pandan, awalnya akan dimakamkan di makam tembok tetapi katanya sesepuh ada yang di mimpikan kalau beliaunya ingin di makamkan di Kalibutuh dan sebagai cikal bakal Kalibutuh Timur, ditemukan sudah lama saat runtuhah kerajaan mojopahit pangeran trenggono,” ujarnya

“Acara ini diadakan setiap tahun, sempat berhenti saat covid tapi setelah itu tradisi ini di adakan kembali, kalau dahulu diadakan acara 2 hari 2 malam dengan acara tradisi Tandakan (musik tari tradisional) dan berkumpul masyarakat dengan minum minuman jaman mbah (orang tua) dahulu, akhirnya seiring perkembangan jaman kita digeser ke religi, sabtu malam Minggu diadakan bacaan yasin dan tahlil, sabtu pagi khataman al qur’an, untuk minggu pagi ini kita arak-arakan tumpeng sebagai rasa syukur kita, yang kita undang tidak hanya orang agama islam tapi kita undangan juga suster yayasan don bosco terkadang ikut hadir, serta seluruh masyarakat dari agama lain, dalam acara benar – benar bernuansa persaudaraan persatuan dan kesatuan pancasila dalam bhineka tunggal ika, tuturnya

Samat Ketua RW 7 Kelurahan Tembok Dukuh, sejak jaman nenek moyang kita, sekitar tahun 60 an, kita kan pendatang cerita nya 550 tahuna, ada riwayatnya didalam pesarean, acara ini di ikuti karang taruna dan semua warga RW 7 khususnya bergotong royong, acara ini di inisiatif oleh seluruh warga RW 7 dari pendanaan dan penataan acara,” pungkasnya

Taufiq Rachmanu Ketua LPMK Kelurahan Tembok Dukuh, Acara ini digelar warga RW 7 Kelurahan Tembok Dukuh, jadi acara ini memang di gelar setiap tahun dalam rangka memperingati haul dari Pesarean di wilayah RW 7 (Pesarean Pandan Sari), dan selain itu juga dalam rangka mengaktifkan atau menguri-uri (melestarikan) budaya bahwasanya sedekah bumi supaya kita tetap bersyukur atas apa yang diberikan oleh allah kepada kita semua, ujarnya

Harapan saya, bisa menjadikan percontohan dari warga atau wilayah lain, selain itu sebagai momen bisa berkumpul bersama mensyukuri apa yang diberikan tuhan yang maha esa supaya kita juga selalu ingat bahwasanya di wilayah kita ada salah satu tempat keramat dan budaya pesarean Pandan Sari, ujarnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.