Kegiatan Lokakarya Ritus Liyan Bersama Warga RT 07 Plampitan Surabaya

Reporter : Karjoko

SRN/SURABAYA/11-05-2024 – Universitas Airlangga Surabaya menyelenggarakan rangkaian kegiatan ICAS ( International Conference on Asian Studies ) diwakili oleh mahasiswa mahasiswi dan warga RT 07 RW II Plampitan Surabaya mengelar acara rujakan,makan nasi karak dimulai pukul 01.00 di depan balai RT 07 jalan Plampitan XI Surabaya, Sabtu siang (11/05/2024).

Kegiatan lokakarya Ritus Liyan adalah lokakarya seni urban yang diselenggarakan oleh Unair Surabaya, sebagai pembuka dari rangkaian kegiatan ICAS. Lokakarya Ritus Liyan diselenggarakan selama 2 bulan mulai bulan Maret sampai akhir Mei 2024 yang dipilih wilayah RW II Plampitan Surabaya karena kampung Plampitan lokasinya yang tepat ditengah Kota, narasi sejarahnya yang kuat dan kreatifitas warga, dan khususnya warga RT 07 RW II Plampitan Surabaya ungkap Bintang Putra ketua Ritus Liyan .

Lokakarya Ritus Liyan diprakarsai oleh 9 orang seniman dari berbagai latar belakang dan kota asal para seniman melakukan penelitian dan pendekatan dengan warga kampung lawas Pelampitan untuk mempelajari kegiatan sehari hari warga dan pengetahuan pengetahuan lokal yang kerap kali tersembunyi ditengah hiruk pikuk nya kota metropolitan Surabaya ini.

“Karya karya seniman diatas memiliki berbagai macam tema, topik dan berbagai jenis media seperti digelar nya rujakan dan makan nasi karak dengan dihadiri 30 Warga RT 07 Plampitan, dimana acara ini untuk memahami bagaimana warga bisa bersilaturahmi ,berkumpul sesama tetangga,” ungkap Lutfia Setyo.

Pada akhir acara Lutfia akan memamerkan karya instalasinya yang terinspirasi dari acara rujakan ,makan nasi karak dengan warga RT 07 Plampitan inilah contoh lokakarya Ritus Liyan beber Bintang putra.

Pada bulan Mei tanggal 24 sampai 31 peserta lokakarya Ritus Liyan akan menggelar pameran karya seni di lapangan gang 8 Plampitan antara lain : fotografi, vidiografi, mural, seni performatif,batik ciri khas Peneleh sketsa, instalasi dan lain sebagainya. Pameran tersebut akan dikuratori oleh Aarti kawlra seorang periset dari India dan Bintang Putra dari Surabaya kebetulan sebagai pembina lokakarya Ritus Liyan,” ungkap Gata Mahardika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.