Menelusuri Jejak Sejarah 2 Wali Kota Surabaya Rekomendasi dari PKI dan Pembangunan Tugu PKI

Foto : 2 Mantan Walikota Surabaya Rekomendasi PKI 1963 - 1965 (UPTD Museum dan Gedung Seni Budaya)
banner 120x600

Reporter : Agus Budi

Sumber   : UTPD Museum dan Gedung Seni Budaya

SRN/SURABAYA/02-10-2023 – Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Rentetan peristiwa politik yang akhirnya mengarah kepada aksi keji pembunuhan sesama anak bangsa. Bisa dikatakan bahwa peristiwa PKI ini merukapan perang saudara di Indonesia yang dilatar belakangi oleh kegiatan politik dan ideologi.

PKI sendiri berawal dari partai yang bernama Indische Social Democratische Vereniging (ISDV). Partai ini didirikan oleh Henk Sneevliet pada 1914. Misi utamanya adalah menanamkan paham marxisme dan komunis pada perjuangan Bangsa Indonesia. Sasaran utama dari penyebaran paham ini adalah kaum buruh, petani dan pekerja kereta api. Salah satu penyebarannya juga melalui prganisasi seperti Sarekat Islam (SI). Hal ini kemudian membuat SI terpecah menjadi dua kubu, yaitu Kubu Agamis (SI Putih) dan Kumu Komunis (SI Merah).

Foto : Gedung UTPD Museum dan Seni Budaya Surabaya

Hingga pada tahun 1920 ISDV melalui kongres berubah nama sebagai Partai Komunis Hindia (PKH) dan pada tahun 1924 baru menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejak berubah nama, PKI beberapakali terlihat dalam pemberontakan, terutama pada tahun 1948. Musuh utama PKI saat itu adalah  Uama, Santri, tokoh pemerintah dan tokoh masyarakat yang tidak sepaham dengan PKI. Hingga akhirnya pemberontakan tersebut ditumpas oleh Kolonel AH Nasution. Sekarang menjadi jelaskan…mengapa pada tahun 1965, salah satu target penculikan dan pembunuhan PKI adalah AH Nasution.

Meski demikian, faktanya PKI masih mendapatkan dukungan yang besar dari rakyat Indonesia. Hal ini terbukti pada tahun 1955 ketika PKI menduduki peringkat ke-4 dalam pemilu. Sayangnya, lagi-lagi PKI kembali PKI melakukan pemberontakan yang banyak kalangan menyebutnya sebagai KUDETA terhadap pemerintah. Hingga terjadilah peristiwa G30SPKI yang menjadi latar belakang dari Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober).

Peristiwa G30SPKI tersebut rupanya menjadi aksi fatal yang dilakukan oleh PKI. Karena akhirnya pemerintah menyatakan bahwa PKI dan organisasi lainnya yang berhaluan sama adalah organisasi terlarang. Hal ini kemudian menjadi titik bali dari penangkapan semua orang yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI. Tak terkecuali dengan Kota Surabaya.

Puncaknya terjadi pada tanggal 16 Oktober 1965 di halaman Tugu Pahlawan Surabaya. dimana saat itu terjadi pertemuan Organisasi Anti Komunis. Pertemuan tersebut menyerukan untuk mengganyang dan menumpas PKI dnn simpatisannya. Akhirnya bisa ditebak, gelombang kekerasan, penangkapan , penahanan dan pembunuhan langsung meningkat drastis. Bahkan kampung Pandegiling dan Dukuh Kupang sempat mendapatkan serbuan dari tentara karena diduga sebagai sarang komunis.

Foto : Ruang Dalam Museum Surabaya (UTPD Museum dan Seni Budaya Surabaya)

Penindakan yang dilakukan terhadap PKI ini bahkan juga menyasar ke Walikota Surabaya yang bernama Moerachman. Walikota  lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) ini menjabat pada tahun 1963-1965. Beliau menggantikan dr.Raden Satrio Sastrodiredjo, yang pada tahun 1963 diangkat menjadi Wakil Gubenur Jawa Timur. Keduanya ini diduga memiliki affiliasi dengan PKI, karena yang mengangkat mereka berdua untuk duduk di pemerintahan atas rekomendasi dari PKI.

Setelah ditangkap, sampai saat ini tidak diketahui nasihb dari kedua Wali Kota Surabaya tersebut. kalaupun sudah dihukum mati, letak makamnya juga tidak diketahui oleh publik. namun untuk foto keduanya, bisa dilihat di Museum Surabaya yang ada di dalam gedung Mall Pelayanan Publik Ex Siola. Bahkan di Kota Pahlawan sendiri diduga pernah berdiri patung Palu-Arit yang merupakan simbol dari PKI. Namun hingga kini belum didapatkan literatur yang memuat lokasi dari pembangunan patung tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.