DI PILPRES 2024 PRABOWO BISA JADI MAGNET BAGI KOALISI BESAR MENURUT PENGAMAT

ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto
banner 120x600

SRN/JAKARTA/08-04-2024 – Direktur Eksekutif Indo Barometer,  M. Qodari menilai Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto bisa menjadi motor penggerak dan magnet dari Koalisi Besar.

Menurut Qodari, Prabowo Subianto pantas memimpin Koalisi Besar, yang merupakan penggabungan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR).

“Tokoh sentral atau lokomotif dari koalisi itu adalah Prabowo Subianto karena dia adalah capres paling populer,” ujar Qodari kepada wartawan, Sabtu (08/04).

KIB merupakan koalisi bentukan Golkar, PAN dan PPP. Sementara KKIR adalah koalisi bentukan Partai Gerindra dan PKB. Menurut Qodari, terdapat dua variabel dalam memilih pemimpin dari Koalisi Besar, yakni memiliki elektabilitas serta representasi perolehan kursi di DPR RI saat ini.

Dari lima partai politik potensial pembentuk Koalisi Besar, kata dia, memang Partai Golkar menempati kursi terbanyak di DPR RI.

“Tetapi kalau bicara Pilpres kan kunci ada di siapa calon presidennya. Maka dari semua ketua umum dengan elektabilitas paling tinggi dan berpotensi menang adalah Prabowo Subianto,” tandas dia.

Sejak wacana Koalisi Besar muncul, kata Qodari lagi, Prabowo sudah menerima kunjungan tiga partai politik yaitu Partai Perindo, yang ketua umumnya adalah Hary Tanoesoedibjo dan Partai Bulan Bintang (PBB) yang ketua umumnya adalah Yusril Ihza Mahendra serta PAN yang Ketumnya Zulkifli Hasan pada hari ini, Sabtu (08/04) di Kediaman Prabowo, Jalan Kartanegara IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Kan kita saksikan kemarin tokoh-tokoh politik bertemu, menyambangi Pak Prabowo, itulah kenapa dia bisa dan sangat potensial menjadi magnet utama Koalisi Besar,” pungkas Qodari.

Wacana Koalisi Besar makin menguat belakangan ini. Apalagi Presiden Joko Widodo memberikan sinyal mendukung terbentuk Koalisi Besar untuk menghadapi Pilpres 2024. Koalisi Besar merupakan penggabungan KIB bentukan Golkar-PAN-PPP dan KKIR bentukan Gerindra-PKB. Bahkan PDIP membuka peluang bergabung Koalisi Besar.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyebutkan bahwa peleburan KIB bentukan Golkar, PAN dan PPP serta KKIR bentukan Gerindra-PKB cocok. Meskipun, kata Jokowi, keputusan peleburan kedua koalisi tersebut tergantung ketua umum masing-masing parpol.

“Cocok, saya hanya bilang cocok. Terserah kepada ketua-ketua partai atau gabungan partai,” ujar Jokowi usai agenda Silaturahmi Ramadan yang digelar Partai Amanat Nasional (PAN) di Kantor DPP PAN Jakarta Selatan, Minggu (02/04).

Jokowi berharap wacana peleburan antara KIB dan KKIR dapat mempertimbangkan dalam hal kebaikan negara, bangsa, dan rakyat. “Untuk kebaikan negara, kebaikan bangsa, kebaikan rakyat hal yang berkaitan bisa dimusyawarahkan akan lebih baik,” kata Jokowi.

Selain itu, Jokowi menuturkan keputusan dalam mengusung bakal calon presiden dan wakil presiden hendaknya ditanyakan kepada para ketua umum partai politik. “(Nama capres) Ya nanti ditanyakan ke ketua-ketua partai,” tambah Jokowi.

Meskipun demikian, Ketua DPP PAN Saleh Partaonan Daulay membantah kabar bahwa wacana Koalisi Besar diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo. Menurut Saleh, Presiden Jokowi hanya setuju saja adanya wacana Koalisi Besar yang muncul dari para ketum partai politik yang tergabung dalam pemerintahan Jokowi-Ma’ruf.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kedua kiri) dan ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto (kedua kanan) saat pertemuan di jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Sabtu, Sabtu, 8 April 2023

Wacana Koalisi Besar muncul saat para ketum partai politik dari Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bentukan Golkar-PAN-PPP dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) bertemu di acara silaturahmi Ramadan yang digelar PAN di Kantor DPP PAN Jakarta Selatan, Minggu (02/04).

Saat itu, hadir Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Abdul Muhaimin Iskandar, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Plt Ketum PPP Muhammad Mardiono. Presiden Jokowi juga hadir dalam acara tersebut.

“Jadi Pak Jokowi pada acara ini sebetulnya diundang, bukan mengundang. Buktinya kan acaranya dilaksanakan di PAN,” ujar Saleh di Jakarta, Sabtu (08/04).

Saleh menegaskan, jika Jokowi ingin menginisiasi Koalisi Besar, maka Jokowi akan mengajak para ketum parpol bertemu di Istana negara. Kenyataannya, kata Saleh, Jokowi tidak melakukan itu dan Jokowi hanya hadir di acara Silaturahmi Ramadan PAN.

“Kalau mau bikin sendiri Pak Jokowi di istana saja. Kalau mau menginisiasi enggak perlu datang ke PAN. Lagian kami kan anak paling kecil, bungsu di kabinet, masa menginisiasi,” tandas Saleh.

Reporter  : Satriya

Sumber    : Berita satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.