Tradisi Larung Saji Saat Memasuki Bulan Suro Masih di Lakukan Warga Baratajaya Surabaya

Tampak Warga Baratajaya Tangsi Saling Gotongroyong Menggelar Tradisi Budaya Larung Saji untuk Terhindar dari Marah Bahaya dan di Beri Kelancaran Serta Rejeki yang Berlimpah

SRN/SURABAYA – Memasuki Bulan Suro dalam Kalender Jawa, warga Stren Kali Baratajaya, Surabaya, tepatnya di Jalan Baratajaya XIX Tangkis, Surabaya, masih memegang teguh tradisi Bersih Desa, dengan melakukan Larung Saji.

Berbagai kegiatan dilaksanakan mulai dari mengadakan Larung Saji di Dua tempat yaitu Waduk Baratajaya dan Sungai Jagir, serta Kenduri. mengirim sesaji yang dilarung di Dua tempat ini diperuntukkan untuk Sang Pencipta dan danyang yang mereka anggap sebagai penguasa, atau seperti tahun tahun lalu mereka juga menggelar tradisioni jawa ini dengan menambahkan Kesenian Tradisional, seperti pertunjukan tari-tarian tradisional dan Reok Ponorogo.

Tampak Kedua anak Muda Ini Siap Melarung Saji di Salah Satu Tempat di Daerah Baratajaya, Waduk Baratajaya Surabaya

Warga yang bergabung dalam paguyuban Perkumpulan Pemulung Baratajaya Tangsi, berada di Kelurahan Baratajaya, Kecamatan Gubeng, Surabaya, bersama para Sesepuh Desa, mengadakan Ritual Bersih Desa berupa Larung Saji dan Kenduri, mengirim saji-sajian ke 2 (Dua) tempat yang dipercaya sebagai tempat penguasa Alam Lain dan rasa syukur pada Sang Pencipta, (29/7) pukul 15.00 WIB.

Acara dimulai dari Waduk Baratajaya. Di Waduk tersebut, mereka mengirim Do’a untuk sang Pencipta dan Danyang penguasa setempat, mereka mengucapan rasa terimakasih mereka kepada sang pencipta, atas kesehatan, kelancaran, keselamatan dan rejeki yang diberikan, serta pada sang Danyang supaya tidak mengganggu kehidupan mereka, kemudian mereka melarung sesaji sebagai ungkapan rasa syukur tersebut di Waduk Baratajaya.

Setelah dilakukan larung saji di Waduk Baratajaya, dilanjut acara larung ke Dua di Sungai Jagir dengan diarak menuju lokasi kemudian dido’akan bersama, sama dengan Larung Saji Pertama, keinginan warga supaya selalu dalam lindungan Sang Pencipta dan para penguasa Danyang setempat tidak mengganggu kehidupan keluarga mereka.

Tokoh Penggerak Masyarakat Baratajaya Tangsi, Bapak Eko Pojok Kiri, Bapak Waluyo Jati Nomor Dua dari Kiri

Menurut Kordinator Pemulung Wilayah Baratajaya Tangkis, Waluyo Jati, tradisi Larung Saji ini rutin diselenggarakan sudah ke 4 (Empat) kali ini oleh warga Baratajaya,  sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat dan hidayatnya pada Sang Pencipta. Menurut beliau ada kurang lebih 100 Kepala Keluarga atau 600 Jiwa di lokasi ini, mereka saling membantu dan bergotong royong untuk menyelenggarakan acara bersih Desa ini dengan melarung Saji dan Syukuran bersama.

“Bersih Desa merupakan slametan atau upacara Adat Jawa untuk memberikan sesaji kepada Danyang setempat. Sesaji berasal dari warga untuk menyumbangkan makanan. Bersih desa dilakukan oleh masyarakat Baratajaya Tangsi ini, untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Maka sesaji diberikan kepada Danyang, karena Danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah lokasi,” ungkapnya.

Tradisi Bersih Desa sebagai upacara adat memiliki makna spiritual di baliknya. Bersih Desa bertujuan untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas hasil rejeki yang didapat. Selanjutnya, upacara bersih Desa bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Sang Pencipta dan Danyang sebagai penjaga Desa dari hal-hal negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu juga dengan Kordinator Pemulung Baratajaya, Eko mengatakan kepada media SRN, “Tujuan bersih Desa adalah untuk memohon berkat agar hasil rejeki berikutnya melimpah, seluruh warga diberi kesehatan dan menjadikan desa yang aman, tentram, gemah ripah loh jinawi”.

Para Tokoh dan Masyarakat Baratajaya Tangsi, Seusai Acara Larung Saji

Usai menggelar tradisi ke 2 (Dua) tempat, dilanjutkan Syukuran bersama warga, Sesepuh kampong dan tokoh masyarakat di Baratajaya Tangsi, dengan menggelar tumpeng dan makan bersama, untuk menunjukkan rasa kebersamaan dan kerukunan antar warga disini.

Dengan harapan warga setempat Stren Kali Baratajaya, supaya para pemangku Wilayah seperti Lurah Baratajaya dan Camat Gubeng juga bisa ikut menghadiri acara ini, mari kita duduk bersama dan berbaur dengan masyarakat kecil, karena ini merupakan tradisi budaya bangsa Indonesia, supaya dilestarikan dan tidak sirnah oleh jaman, untuk generasi muda. (Satriya/Sugeng/Riski/Waone)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.