Pengamat Militer Khawatir Saat Presiden RI Akan Berkunjung ke Ukraina

Foto Presiden RI, Jokowi
banner 120x600

SRN/JAKARTA – Dari analisa Pengamat Militer Connie Rahakundini, menceritakan kekhawatirannya saat awal Presiden RI, Joko Widodo akan berkunjung ke Ukraina.

Connie mengatakan, akan awal  khawatirannya dan sempat membahas dengan Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi melalui sambungan telepon.

“Pertama sekali saya khawatir. Tapi sebelum Bu Menlu berangkat ke Jerman, kami kebetulan berhubungan lewat telepon, saya tekankan bahwa harapan saya Presiden Jokowi tidak mengarah ke Kiev,” jelasnya dalam program Satu Meja The Forum di media Kompas TV, Rabu (29/6) malam.

Tapi, kekhawatirannya sedikit reda saat melihat kereta yang akan ditumpangi Jokowi dan rombongan, yang menurutnya cukup aman.

“Kenapa saya khawatir dan terus kontak dengan Ibu Menlu, karena saya pikir begini, di Ukraina ini menjadi mandala perang yang aneh, bukan antara dua negara, Ukraina dan Rusia, tetapi antara kawan-kawan seglobal melawan Rusia.”

“Kedua, ada aktor-aktor lain yang bisa bermain, misalnya Neo Nazi, atau mungkin some crazy people yang bergerak atas nama dirinya sendiri,” tuturnya.

Ia juga menuturkan, meskipun 39 personel pasukan pengamanan presiden (Paspampres) mengawal perjalanan Jokowi, tapi mereka hanya berbekal senjata ringan.

“Jadi yang saya khawatirkan dari awal itu artileri berat.”

“Yang paling menyeramkan sebenarnya kita lihat perang ini kan kadang-kadang alatnya sederhana, drone yang bisa dibeli di mal, tapi dibekali bom,” tuturnya.

Mengenai keikutsertaan Ibu Negara Iriana Jokowi dalam kunjungan itu, Connie melihatnya sebagai pesan yang ingin disampaikan pada publik, bahwa istrinya mendukung ke mana pun Jokowi pergi.

“Saya kira mungkin message yang mau disampaikan pada publik adalah bahwa Ibu Iriana mendukung suaminya ke mana pun berada.”

Satu yang paling penting dari kunjungan ini, menurutnya adalah menunjukkan bahwa Indonesia tidak berpihak.

Dampak Ekonomi

Sementara, dari sisi ekonomi, Prasetyantoko, pengamat ekonomi, menjelaskan tentang posisi Indonesia akibat konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina tersebut.

Ia menyebut, selama ini tidak terlalu mengetahui tentang seberapa penting Ukraina untuk negara lain di dunia.

Tapi, setelah terjadinya konflik, diketahui bahwa Ukraina memiliki peran penting untuk negara lain.

“Pertama, dia sebagai negara kecil itu sumber resourcesnya kaya sekali, dia punya cadangan terbesar titanium di dunia, dia juga produsen macam-macam hal, pangan juga begitu,” tuturnya.

Ukraina, lanjut Prasetyantoko, merupakan eksportir gandum terbesar dan penghasil bunga matahari terbesar dunia.

Perang yang terjadi di Ukraina, lanjut dia, bukan hanya menyebabkan negara itu tidak bisa bekerja, tapi juga tidak bisa mengeluarkan produksinya.

“Itu punya impact. Satu, harga komoditas. Kedua, harga pangan.”

Tapi, lanjut dia, yang perlu diwaspadai adalah tingkat kedalaman perang secara ekonomi.

Menurutnya, selama ini yang biasa terjadi saat konflik hanya berupa perang dagang saja, tetapi konflik antara Rusia-Ukraina ini sampai pada pembekuan aset dan pemutusan sistem pembayaran.

“Tingkat kedalaman perang ekonominya lebih dalam, dan dampaknya secara global akan sangat signifikan.”

“Kalau situasi berangsur-angsur mulai pulih, tatanan ekonomi tidak akan balik seperti perang, ada situasi global yang berubah,” jelasnya.

Dalam beberapa hal, kata dia, imbas yang akan dirasakan oleh Indonesia tidak seburuk negara lain.

“Misalnya, karena kenaikan harga komoditas ini, kita justru mendapatkan tambahan revenue karena kita penghasil komoditas.”

Iamenegaskan, dampak dari perang itu tidak seragam pada semua negara, meskipun secara global, dampak perang Ukraina ini negatif.

“Untuk tiap-tiap negara berbeda, dan kita untungnya tidak seburuk negara lain dampak dari krisis Ukraina ini.”

“Secara agregat ekonomi kita memang diuntungkan, tetapi untuk beberapa sektor, seperti gandum, memiliki dampak yang negatif. Jadi, dampak sektoralnya berbeda-beda,” ulangnya.

Tapi, jika konflik itu berkepanjangan, menurutnya tentu akan merugikan semua negara, termasuk Indonesia yang dalam jangka pendek ini sedikit diuntungkan oleh situasi. (CakBAS)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.